Dalam rangka mendukung penguatan ekonomi masyarakat berbasis kerajinan lokal, Tim Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Pemerintah Desa Mulyorejo melaksanakan kegiatan kunjungan dan pengarahan kepada pengrajin tusuk sate di Dusun Kaweden dan Dusun Panggung, Desa Mulyorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sehingga dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan adanya hilirisasi ini, hasil kajian dan penelitian kampus tidak berhenti pada tataran akademik, melainkan diterapkan untuk mendukung pengembangan UMKM dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Potensi Dan Permasalahan Yang Dihadapi Pengrajin
Desa Mulyorejo memiliki potensi alam berupa hutan bambu yang cukup luas. Namun, dalam praktiknya, pengrajin tusuk sate menghadapi tantangan serius dalam proses produksi. Salah satu kendala utama yang ditemukan adalah kesulitan mendapatkan bambu yang sesuai standar untuk dijadikan bahan baku tusuk sate.
Tantangan Bahan Baku: Bambu Tidak Bisa Sembarangan
Dari hasil diskusi bersama pengrajin, terungkap bahwa salah satu tantangan utama adalah kesulitan dalam mendapatkan bambu dengan kualitas yang sesuai. Bambu yang digunakan tidak bisa sembarangan—harus berusia lebih dari dua tahun agar memiliki tekstur padat, tidak mudah pecah, dan tahan api saat digunakan untuk membakar sate. Namun, kondisi hutan sekitar tidak selalu menyediakan stok bambu tua dalam jumlah cukup, dan belum ada sistem penanaman atau manajemen bambu jangka panjang. Akibatnya, pengrajin sering kali harus mencari bahan baku dari wilayah lain atau menunggu musim tertentu.
Keterbatasan Mesin dan Sistem Produksi Bergilir
Selain kendala bahan baku, faktor alat produksi juga menjadi hambatan utama. Di seluruh wilayah Desa Mulyorejo, saat ini hanya tersedia satu unit alat pembentuk tusuk sate. Alat ini harus digunakan secara bergantian oleh seluruh pengrajin dari dua dusun, sehingga menimbulkan antrean dan keterbatasan waktu kerja. Banyak pengrajin harus menunggu giliran berhari-hari untuk dapat memproduksi kembali. Hal ini berdampak langsung pada kapasitas produksi dan konsistensi pasokan. Pengrajin menyatakan bahwa ketersediaan alat tambahan, atau pelatihan pembuatan alat secara sederhana, sangat mereka harapkan agar bisa meningkatkan kemandirian dan efisiensi usaha.
“Kalau pakai mesin manual, sehari hanya bisa menghasilkan beberapa kilogram tusuk sate. Tapi kalau ada mesin otomatis, bisa tiga kali lipat lebih banyak,” ujar salah satu pengrajin dari Dusun Panggung.
Sistem Setor ke Pemasok Lokal
Menariknya, hasil produksi tusuk sate tidak langsung dipasarkan ke luar desa oleh para pengrajin. Sebaliknya, produk tusuk sate harus disetor terlebih dahulu ke seorang pemasok lokal di desa, yang kemudian mengelola distribusinya ke wilayah yang lebih luas. Sistem ini telah berjalan lama dan menjadi bagian dari pola kerja kolektif. Namun, beberapa pengrajin menyampaikan harapan agar sistem ini dapat lebih transparan dalam hal harga, kuota, dan akses ke pasar langsung, agar pendapatan mereka bisa lebih optimal.
Dorongan untuk Inovasi dan Sinergi Ke Depan
Dalam sesi pengarahan, Tim PMM memberikan edukasi singkat mengenai strategi peningkatan kualitas produk, penyimpanan bambu agar tahan lama, dan peluang pemasaran digital yang bisa dijangkau melalui media sosial. Selain itu, juga disampaikan ide tentang pembentukan kelompok usaha bersama agar pengadaan alat bisa dilakukan secara kolektif dengan bantuan desa atau mitra pendamping.
Kepala Dusun Kaweden yang turut hadir menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini dan menyatakan kesiapan desa untuk menindaklanjuti dengan program yang lebih terstruktur. Harapannya, hasil dari kunjungan ini bisa menjadi pemantik hadirnya inovasi, bantuan alat produksi, serta sistem kerja yang lebih adil dan menguntungkan bagi para pengrajin.
Dengan kunjungan ini, diharapkan akan muncul sinergi berkelanjutan antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah desa untuk mengembangkan usaha tusuk sate sebagai ikon produk lokal yang tidak hanya menopang ekonomi rumah tangga, tetapi juga membawa nama baik desa ke luar wilayah.

sumber berita: https://www.kompasiana.com/