PMM UMM dan Plang Nama Makam: Menyapa Arwah, Menghargai Sejarah
Oleh: Tim PMM Bhaktiku Negeri Universitas Muhammadiyah Malang 2025 – Desa Sukopuro
Makam bukan hanya tempat bersemayamnya jasad yang telah tiada, namun juga menjadi pengingat akan sejarah, leluhur, dan identitas suatu wilayah. Namun sayangnya, tidak semua makam memiliki penanda yang jelas. Hal ini terjadi pula di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, di mana sebagian makam belum memiliki plang nama yang layak.
Melihat kondisi ini, Tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktiku Negeri dari Universitas Muhammadiyah Malang yang bertugas di Desa Sukopuro berinisiatif untuk menjadikan pembuatan plang nama makam sebagai salah satu program kerja (proker) unggulan kita.
Program ini menyasar enam lokasi makam yang tersebar di enam dusun, yakni:
Dusun Karangrejo (2 lokasi),
Dusun Luring,
Dusun Sumberpitu,
Dusun Kepuh,
dan Dusun Pandanrejo.
Prosesnya tidak sederhana. Dimulai dari survei lokasi, perizinan kepada tokoh masyarakat dan perangkat desa, hingga proses produksi dan pemasangan plang yang dikerjakan langsung oleh anggota tim secara gotong royong. Salah satu anggota terlihat sedang memotong papan menggunakan gergaji tangan, sementara yang lain membantu dalam pengukuran dan desain. Plang yang dipasang pun dirancang menarik dan tetap mengusung nuansa Islami yang sesuai dengan identitas makam setempat.
Selain sebagai penanda lokasi, keberadaan plang ini juga bertujuan untuk menunjukkan rasa hormat kepada para leluhur serta memberikan kemudahan bagi keluarga atau peziarah dalam mencari makam sanak keluarga mereka. Tak sedikit warga yang mengungkapkan rasa terima kasih atas inisiatif ini.
Program ini bukan hanya sekadar proyek fisik, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah lokal dan spiritualitas masyarakat. Kami percaya, melalui tindakan kecil seperti ini, nilai pengabdian yang kami bawa sebagai mahasiswa dapat memberi dampak yang nyata dan berkesinambungan.
Dengan semangat “Bhaktiku Negeri,” kami berharap apa yang telah kami lakukan dapat menjadi titik awal dari perhatian lebih luas terhadap situs-situs penting yang ada di desa.
sumber berita: kompasiana