Ketika berbicara tentang pembangunan desa, seringkali kita terjebak pada paradigma besar-besaran yang membutuhkan anggaran fantastis. Padahal, perubahan nyata justru lahir dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan berkelanjutan. Inilah yang coba dibuktikan melalui Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Potensi Terpendam yang Perlu Dioptimalkan

Desa Gaprang bukanlah desa biasa. Terletak di jantung Kabupaten Blitar, desa ini memiliki aset berharga berupa greenhouse Kelompok Wanita Tani yang sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal. Fasilitas yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi pertanian ini terbengkalai, seakan menunggu tangan-tangan kreatif untuk menghidupkannya kembali.

Program PMM yang dilaksanakan selama sebulan ini menawarkan solusi praktis: revitalisasi greenhouse sebagai pusat edukasi dan produksi pangan lokal. Bukan sekadar memperbaiki fasilitas fisik, tetapi membangun ekosistem pembelajaran yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari siswa SD Negeri Gaprang 1 hingga pelaku UMKM lokal.

Pendekatan Holistik yang Menjanjikan

Yang menarik dari program ini adalah pendekatannya yang holistik. Tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pendidikan dan lingkungan. Konsep “learning by doing” yang diterapkan kepada anak-anak SD memberikan pengalaman langsung tentang pertanian berkelanjutan, sementara pemberdayaan UMKM memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat dewasa.

Ketika mahasiswa berkolaborasi dengan masyarakat dalam mengelola greenhouse, tercipta transfer pengetahuan dua arah. Mahasiswa belajar realitas lapangan, sementara masyarakat mendapat wawasan baru tentang teknologi pertanian modern. Sinergi semacam ini jarang terjadi dalam program-program pembangunan konvensional.

Tantangan yang Harus Diantisipasi

Namun, optimisme ini harus diimbangi dengan realisme. Program selama sebulan adalah waktu yang relatif singkat untuk menciptakan perubahan fundamental. Pertanyaan besarnya: apakah momentum ini akan berlanjut setelah mahasiswa PMM menyelesaikan tugasnya?

Keberlanjutan program menjadi kunci utama. Tanpa komitmen jangka panjang dari pemerintah desa, Kelompok Wanita Tani, dan masyarakat secara umum, dikhawatirkan greenhouse akan kembali terbengkalai seperti sebelumnya. Diperlukan sistem monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan program terus berjalan.

Peluang Replikasi di Desa Lain

Jika program PMM di Gaprang berhasil, modelnya sangat berpotensi untuk direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Blitar. Banyak desa yang memiliki aset serupa tetapi belum dioptimalkan. Greenhouse bukan satu-satunya fasilitas yang bisa direvitalisasi; bisa juga berupa balai desa, pasar tradisional, atau fasilitas pendidikan lainnya.

Pemerintah Kabupaten Blitar perlu mempertimbangkan untuk menjadikan program semacam ini sebagai model pembangunan desa berbasis kolaborasi kampus-masyarakat. Alokasi dana desa yang ada bisa diarahkan untuk mendukung program-program inovatif seperti ini, bukan hanya untuk pembangunan fisik semata.

Harapan dan Rekomendasi

Program PMM di Desa Gaprang memberikan harapan baru bahwa pembangunan desa tidak selalu membutuhkan investasi besar. Yang dibutuhkan adalah kreativitas, kolaborasi, dan komitmen berkelanjutan. Namun, beberapa hal perlu diperkuat:

Pertama, perlunya keterlibatan aktif pemerintah desa dalam memfasilitasi keberlanjutan program. Kedua, pembentukan kelompok penggerak di tingkat masyarakat yang akan melanjutkan program setelah mahasiswa PMM selesai. Ketiga, integrasi program dengan rencana pembangunan jangka menengah desa.

sumber berita: https://www.kompasiana.com/